Site Loader

Kuesioner : “Analisis Pengaruh Citra Merek dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian Produk Laptop Acer di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta.”
Dengan hormat,
Dalam rangka penyusunan Skripsi sebagai salah satu syarat kelulusan program Sarjana S1 di Universitas Negeri Jakarta, peneliti berusaha untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai “Analisis Pengaruh Citra Merek dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian Produk Laptop Acer di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta.”
Oleh karena itu, saya ingin mengajak mahasiswa/i Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta untuk ikut berpartisipasi dalam pengisian kuesioner ini agar hasil penelitian ini dapat memiliki kreadibilitas yang tinggi. Saya sangat berterima kasih atas kesediaan dan partisipasi mahasiswa/i Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta dalam meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner ini.

Atas perhatian dan kerjasamanya, saya ucapkan terima kasih.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Hormat saya,
Habibah Arianti [email protected] Pengisian:1. Bacalah setiap pertanyaan dengan seksama sebelum menjawab.2. Anda hanya dapat memberikan satu jawaban di setiap pertanyaan.3. Isilah kuesioner dengan member tanda (v) pada kolom yang tersedia dan pilihlah sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Keterangan
STS: Sangat Tidak Setuju
TS: Tidak Setuju
KS: Kurang Setuju
S: Setuju
SS: Sangat Setuju
Contoh Pengisian:
No. Pernyataan STS TS KS S SS
1. Merk Laptop Acer yang sudah dikenal banyak orang Data Responden:
Identitas Responden:
Jenis Kelamin: a. Laki-lakib. Perempuan
Usia: a. 18-20 tahun
b. 21-25 tahun c. >25 tahun
Citra Merek Produk Laptop Acer (X1)
No. Pernyataan STS TS KS S SS
1. Merek Laptop Acer yang sudah dikenal banyak orang 2. Merek Laptop Acer yang mudah diingat 3. Produk Laptop Acer memberikan kesan positif kepada konsumen 4. Merek Laptop Acer mudah dicari ditoko atau secara online. Kualitas Produk Produk Laptop Acer (X2)
No. Pernyataan STS TS KS S SS
5. Merek Laptop Acer mampu memenuhi kebutuhan saya. 6. Merek Laptop Acer memberikan kenyamanan saat menggunakannya. 7. Produk Laptop Acer memiliki model yang variasi 8. Produk Laptop Acer memiliki varian warna yang bermacam-macam dan menarik sesuai selera konsumen 9. Produk Laptop Acer mudah direparasi apabila mengalami kerusakan 10. Adanya ketersediaan layanan customer service terbaik yang diberikan PT Acer Indonesia untuk para pelanggannya 11. Produk Laptop Acer dapat digunakan dengan baik Produk Laptop Acer tidak mengalami gangguan saat digunakan 12. Produk Laptop Acer tidak cepat mengalammi kerusakan 13. Produk Laptop Acer merupakan produk unggul dan berkualitas 14. Produk Laptop Acer tetap terjaga keawetannya meskipun dipakai dalam jangka waktu yang lama 15. Produk Laptop Acer komponen yang berkualitas, sehingga mampu menempuh perjalanan jauh dan dapat dipakai di segala macam acara. 16. Warna dari Produk Laptop Acer merek Acer sangat menarik perhatian konsumen 17. Model yang dimiliki Produk Laptop Acer sesuai dengan harapan saya. 18. Produk Laptop Acer merupakan produk unggulan 19. Produk Laptop Acer merupakan produk yang canggih Keputusan Pembelian (Y)
No. Pernyataan STS TS KS S SS
20. Merek Laptop Acer menjadi pilihan alternative yang dipilih. 21. Memutuskan untuk membeli Merek Laptop Acer. 22. Merasa yakin dengan keputusan pembelian Produk Merek Laptop Acer ANALISIS PENGARUH CITRA MEREK DAN KUALITAS PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK LAPTOP ACER
(di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta)
17697451333500
Skripsi Ini Disusun Sebagai Salah Satu Prasyarat Untuk Memenuhi Nilai Mata Kuliah Manajemen Merk
Habibah Arianti Syahak8215151259
KONSENTRASI MANAJEMEN PEMASARAN
PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam era yang semakin modern ini, keadaan perekonomian di Indonesia semakin maju. Tingkat kebutuhan masyarakat semakin beranekaragam. Dan tingkat kepuasan manusia semakin tidak terkendalikan. Hal tersebut membuat masyarakat menjadi lebih konsumtif. Namun tidak semua masyarakat akan terlibat dan tertarik oleh perkembangan zaman tersebut, karena tidak semua masyarakat akan terus memenuhi kebutuhannya diluar kebutuhan primer maupun sekunder.

Adanya persaingan bisnis yang semakin kuat, membuat perusahaan semakin ingin memiliki pangsa pasarnya yang berbeda-beda. Perusahaan akan semakin berusaha untuk lebih bekerja secara optimal, agar perusahaan dapat bersaing secara kuat dan dapat bertahan pada persaingan tersebut.Walaupun konsumen akan selalu ada, namun daya beli masyarakat juga semakin terbatas. Akibatnya, masyarakat khususnya konsumen dari sebuah produk akan semakin kritis dan memilih-milih sebelum konsumen melakukan pembelian terhadap suatu produk.
Seperangkat keyakinan, ide, dankesan yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu merek (Kotler, 2002 : 215). Sebuah produk hendaklah memiliki brand image (citramerek) yang baik, agar konsumen dapat mengenali produk apa yang dibutuhkan. Karena dengan adanya brand images aja, hal tersebut sudah dapat menggambarkan sebuah produk yang ditawarkan.

Merek telah menjadi cara efektif untuk meraih keunggulan kompetitif berkelanjutan dengan membentuk brand image (citra merek) yang baik dimata konsumen. Citra merek yang dipersepsikan oleh konsumen seperti adanya pandangan tentang kualitas, servis, perusahaan yang baik mampu membuat konsumen percaya. (Cindy dalam Tamara Citra, 2014).

Menjadi suatu hal yang terus melekat, jika perusahaan memiliki posisi brand image yang positif bagi konsumennya. Karena semakin kuat brand image yang terdapat dalam benak konsumen atau pelanggan, maka semakin percaya pula seorang konsumen untuk melakukan pembelian secara berulang-ulang. Yang artinya, konsumen sudah memiliki rasa loyalitas terhadap suatu produk tersebut.

Sebuahcitra merek seolah menjadi sebuah magnet sebagai pemicu ketertarikan seorang konsumen terhadap suatu barang tersebut.Menjadi strategi yang kuat seperti magnet yang sangat kuat dapam menghadapi persaingan yang kuat pula, untuk merebut dan memenangkan pangsa pasar konsumen.Menjadikan suatu kesan yang baik dalam benak konsumen untuk mendorong konsumen melakukan sebuah keputusan pembelian. Karena ketertarikan seorang konsumen terhadap suatu object dipengaruhi oleh citra merek yang baik.
Maka dapat disimpulkan bahwa akan terjadinya keputusan pembelian, apabila konsumen cenderung lebih memikirkan suatu produk yang memang sangat memiliki citra merek yang sangat tinggi. Memiliki citra merek yang baik pada lingkungan masyarakat. Citra merek itu sendiri sama hal pentingnya dengan kualitas produk. Semakin baiknya citra merek yang ada dalam benak konsumen, maka semakin baik pula produk yang dihasilkan guna sebagai ketertarikan konsumen untuk melakukan keputusan pembelian yang tepat karena produk tersebut sudah memiliki citra merek yang sangat baik.

Tidak menutup kemungkinan, bahwa seorang konsumen akan terus terpaku pada sebuah citra merek. Selaindengan citra merek, sebuah produk juga harus memiliki tingkat kualitas yang tinggi. Konsumen yang memiliki tingkat kualitas yang tinggi, akan lebih fokus pula terhadap kualitas yang dimiliki oleh suatu produk.
Kualitas produk menurut Kotler (2005:49), “adalah keseluruhan ciri serta dari suatu produk atau pelayanan pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan/ tersirat”. Produk memiliki arti penting bagi perusahaan karena tanpa adanya produk, perusahaan tidak akan dapat melakukan apapun dari usahanya. Pembeli akan membeli produk kalau merasa cocok, karena itu produk harus disesuaikan dengan keinginan ataupun kebutuhan pembeli agar pemasaran produk berhasil. Dengan kata lain, pembuatan produk lebih baik diorientasikan pada keinginan pasar atau selera konsumen.

Adapun arti dari kualitas oleh Philip Kotler (1992 : 55 ) sebagai berikut: Quality is the totality of features and characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy stated or implied needs. Maksud dari definisi di atas adalah kualitas produk merupakan keseluruhan ciri serta sifat barang dan jasa yang berpengaruh pada kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan yang dinyatakan maupun yang tersirat.

Dari sudut pandang konsumen, kualitas didefinisikan sebagai sesuatu yang diputuskan oleh pelanggan (Feigenbaum, 1996 : 6). Dari 3 definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa kualitas produk adalah spesifikasi tertinggi dari suatu produk yang juga memiliki nilai jual lebih tinggi, sebagai ciri khas suatu produk untuk mencapai kepuasan pelanggan yang ingin dicapai oleh perusahaan.

Sebuah produk tidak sembarangan diproduksi, demi mencapai kepuasan konsumen. Kualitas produk merupakan suatu pembeda atau pembanding yang nantinya hal tersebut merupakan strategi perusahaan untuk meningkatkan daya saing secara langsung dalam memberikan kepuasan terhadap konsumen. Dengan adanya kualitas, sebuah produk akan memiliki nilai tinggi yang dapat menjadi suatu nilai tambah untuk memberikan kepercayaan kepada konsumen.

Meningkatkan kualitas produk untuk memuaskanpelanggan merupakan salah satu hal yang menjadi tujuan bagi setiap perusahaanterlebih perusahaan industri.Karena jika perusahaan memiliki standard kualitas untuk suatu produknya, maka dapat dikatakan bahwa kepuasan konsumen adalah tujuan utama yang ingin dicapai oleh perusahaan.

Artinya, perusahaan teraebut akan lebih memfokuskan diri kepada kualitas yang ditawarkan oleh produk tersebut, guna mencapai kepuasan pelanggan. Dan perusahaan akan terus meningkatkan spesifikasi untuk suatu produk yang dihasilkan, agar kualitas produk yang ditawarkan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan memiliki tujuan akhir untuk mencapai kepuasan pada pelanggan yang loyal terhadap citra merek produk tersebut.
Keputusan pembelian menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikankarena hal ini tentu akan menjadi suatu pertimbangan bagaimana suatu strategi pemasaran yang akan dilakukan oleh perusahaan berikutnya. Keberhasilanperusahaan dalam mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian sangat didukung melalui upaya membangun komunikasi kepada konsumen dengan membangun citra merek yang baik dalam benak konsumen.

Keputusan pembelian adalah akhir dari tujuan yang ingin dicapai perusahaan. Diharapkan dengan adanya citra merek yang baik hingga memiliki kualitas produk yang tinggi, konsumen akan loyal dan memutuskan untuk membeli produk yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhannya dan melihat akan hasil yang ingin dicapai yaitu kepuasan konsumen terhadap produknya.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2009: 112), keputusan pembelian yaitu pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang bisa membuat keputusan, harus tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli bisa mengarah pada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan. Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh perilaku konsumen.

Kotler (2000) menyebutkan bahwa keputusan untuk membeli yang diambil oleh pembeli sebenarnya merupakan kumpulan dari sejumlah keputusan. Menurut Kotler (2002), keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk.

Dari definisi diatas, dapat kita simpulkan bahwa keputusan pembelian adalah suatu tindakan dari konsumen untuk akhirnya memutuskan atau membeli suatu produk dalam memenuhi keinginan dan kebutuhannya yang harus dipenuhi oleh masyarakat.Namun keputusan pembelian tidak hanya berakhir pada pembelian saja. Lebih dari itu, diharapkan setelah konsumen melakukan keputusan pembelian, diharapkan seorang konsumen akan loyal terhadap produk tersebut atau pembelian secara terus berulang karena adanya kepercayaan konsumen terhadap produk berdasarkan pengalaman yang baik yang sudah pernah dirasakan oleh seorang konsumen sebelumnya. Dan berharap akan merekomendasikan produknya kepada orang-orang sekitar karena adanya kepuasan terhadap produk tersebut.

.Dengan adanya latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengangkat judul “Pengaruh Citra Merek dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian Produk Laptop Acer di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta.”
1.2 Identifikasi Masalah
Sesuai dengan judul penelitian ini, maka masalah yang dapat diidentifikasikan adalah sebagai berikut :Persepsi seseorang yang masih awam terhadap produk baru.

Kualitas produk yang menurun karena tingkat produktivitas yang berkurang.
Strategi pemasaran kalah saing dengan strategi pemasaran yang lebih modern melalui media-media yang ada.

1.3 Rumusan Masalah
Dari identifikasi masalah diatas, rumusan masalah yang dapat diambil, antara lain:
Apakah ada pengaruh antara citra merek terhadap keputusan pembelian?
Apakah ada pengaruh antara kualitas produk terhadap keputusan pembelian?
Apakah ada pengaruh antara citra merek dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian?
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :Untuk mengetahui pengaruh citra merek terhadap keputusan pembelian.

Untuk mengetahui pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian.
Untuk mengetahui pengaruh citra merek dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian.

1.5 Manfaat Penelitian
Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya, serta memperluas ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan manajemen pemasaran.

Kegunaan Praktis
Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan bahan evaluasi bagi perusahaan untuk dapat mempertahankan posisi brand image, meningkatkan kualitas produk, dan meningkatkan strategi pemasarannya.

Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian termasuk pengaruh brand image dan kualitas produk terhadap strategi pemasaran.

BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA TEORITIK DAN HIPOTESIS
Deskripsi Konseptual
Keputusan Pembelian
Keputusan dalam arti yang umum adalah “a decision is the selection of an option from two or more alternative choices” yaitu suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah satu dari beberapa alternatif pilihan yang ada.

Definisi keputusan pembelian menurut Nugroho (2003:38) adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasi sikap pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif, dan memilih salah satu diantaranya.

Suatu keputusan dapat dibuat hanya jika ada beberapa alternatif yang dipilih.Apabila alternatif pilihan tidak ada maka tindakan yang dilakukan tanpa adanya pilihan tersebut tidak dapat dikatakan membuat keputusan.

Diungkapkan oleh Belch dan Belch (dalam Kartika Lestari Handayani, 2009:113) keputusan pembelian adalah tahap-tahap yang dilewati konsumen dalam membeli barang atau jasa.. Faktor pertama adalah sikap orang lain dan faktor yang kedua adalah faktor situasional. Oleh karena itu, preferensi dan niat pembelian tidak selalu menghasilkan pembelian yang aktual.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat disampaikan bahwa keputusan pembelian adalah suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah satu dari beberapa alternatif pilihan yang ada dan proses integrasi yang mengkombinasi sikap pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih salah satu diantaranya.

Keputusan pembelian adalah suatu hal yang dilakukan oleh konsumen berupa tindakan pembelian karena adanya ketertarikan terhadap suatu barang.Adanya keputusan pembelian ini dapat terjadi karena adanya kebutuhan konsumen untuk memenuhi kebutuhannya, baik itu kebutuhan primer maupun sekunder.Seorang konsumen dapat saja terus menerus melakukan keputusan pembelian apabila konsumen merasa puas terhadap suatu barang tersebut. Dan dapat menjadi pengalaman yang baik bagi konsumen, jika barang dapat dikatakan sesuai dengan apa yang diinginkan dan diperlukan oleh konsumen.

2.1.1.1 Proses Keputusan Pembelian
Proses keputusan konsumen bukanlah berakhir dengan pembelian, namun berlanjut hingga pembelian tersebut menjadi pengalaman bagi konsumen dalam menggunakan produk yang dibeli tersebut. Pengalaman itu akan menjadi bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan pembelian di masa depan (Ma’ruf, 2005:14).

Menurut Kotler (2005:223) tahap evaluasi alternatif dan keputusan pembelian terdapat minat membeli awal, yang mengukur kecenderungan pelanggan untuk melakukan suatu tindakan tertentu terhadap produk secara keseluruhan. Para ahli telah merumuskan proses pengambilan keputusan model lima tahap, meliputi:
a. Pengenalan masalah
Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali masalah atau kebutuhan, yang dipicu oleh rangsangan internal atau eksternal. Rangsangan internal misalnya dorongan memenuhi rasa lapar, haus dan seks yang mencapai ambang batas tertentu. Sedangkan rangsangan eksternal misalnya seseorang melewati toko kue dan melihat roti yang segar dan hangat sehingga terangsang rasa laparnya.

b. Pencarian informasi
Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Sumber informasi konsumen yaitu:
Sumber pribadi: keluarga, teman, tetangga dan kenalan. 
Sumber komersial: iklan, wiraniaga, agen, kemasan dan penjualan. 
Sumber publik: media massa dan organisasi penilai konsumen. 
Sumber pengalaman: penanganan, pemeriksaan dan menggunakan produk.

c. Evaluasi alternatif
Konsumen memiliki sikap beragam dalam memandang atribut yang relevan dan penting menurut manfaat yang mereka cari.Kumpulan keyakinan atas merek tertentu membentuk citra merek, yang disaring melalui dampak persepsi selektif, distorsi selektif dan ingatan selektif.

d. Keputusan pembelian
Dalam tahap evaluasi, para konsumen membentuk preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan. Faktor sikap orang lain dan situasi yang tidak dapat diantisipasi yang dapat mengubah niat pembelian termasuk faktor-faktor penghambat pembelian. Dalam melaksanakan niat pembelian, konsumen dapat membuat lima sub-keputusan pembelian, yaitu: keputusan merek, keputusan pemasok, keputusan kuantitas, keputusan waktu dan keputusan metode pembayaran.

e. Perilaku pasca pembelian
Para pemasar harus memantau kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian dan pemakaian produk pasca pembelian, yang tujuan utamanya adalah agar konsumen melakukan pembelian ulang.

2.1.1.2 Peran Dalam Pembelian
Ali Hasan (2008:138) menjelaskan bahwa faktor pendorong yang sangat kuat dalam pengambil keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh sejumlah orang memiliki keterlibatan dalam keputusan pembelian. Dan orang yang memiliki keterlibatan dalam keputusan pembelian adalah sebagai berikut :Intitator adalah orang yang menyadari pertama kali adanya kebutuhan yang belum terpenuhi dan berinisiatif mengususlkan untuk membeli produk tertentu. 
Influencer adalah orang yang sering berperan sebagai pemberi pengaruh yang karena pandangan nasihat atau pendapatnya mempengaruhi keputusan pemeblian. 
Decider adalah orang berperan sebagai pengambil keputusan dalam menentukan apakah produk jadi dibeli, produk apa yang dibeli, bagaimana cara membeli, dan dimana produk itu dibeli. 
Buyer adalah orang yang melakukan pembelian aktual. 
User adalah orang yang mengonsumsi atau menggunakan produk yang dibeli.

Citra Merek
Terdapat beberapa perbedaan definisi ataupun pandangan mengenai citra merek, dimana perbedaan pandangan ini bergantung pada luas citra dibangun di benak konsumen. Berikut ini adalah berberapa pengertian citra merek dari beberapa sumber:
Citra merek adalah seperangkat keyakinan konsumen mengenai merek tertentu (Kotler dan Amstrong, 2001:225).

Citra merek adalah kumpulan persepsi tentang sebuah merek yang saling berkaitan yang ada dalam pikiran manusia (Ouwersoot dan Tudorica, 2001)
“Brand image can be defined as a perception about brand as reflected by the brand association held in consumer memory”. Hal ini berarti citra merek adalah persepsi tentang merek yang digambarkan oleh asosiasi merek yang ada dalam ingatan konsumen (Keller, 1998:93).

“Brand association is anything linked in memory to a brand”. Pengertian ini menunjukan bahwa asosiasi merek adalah sesuatu yang berhubungan dengan merek dalam ingatan konsumen (Aaker, 1991:109).

Baik Keller dan Aaker mengemukakan bahwa adanya hubungan yang erat diantara asosiasi merek dengan citra merek dimana asosiasi yang terjalin pada suatu merek dapat membentuk citra merek. Asosiasi merek dapat membantu proses mengingat kembali informasi yang berkaitan dengan produk, khususnya selama proses pembuatan keputusan untuk melakukan pembelian. Jadi, antara citra merek dan asosiasi merek mempunyai keterkaitan yang erat yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainya.

Berdasarkan pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa Citra merek adalah kesan keseluruhan terhadap posisi merek ditinjau dari persaingannya dengan merek lain yang diketahui konsumen –apakah merek tersebut dipandang konsumen sebagai merek yang kuat. Sebagian alasan konsumen memilih suatu merek karena mereka ingin memahami diri sendiri dan untuk mengomunikasikan aspek diri mereka ke orang lain. Citra merek ini bisa diukur dengan menanyakan atribut apa dari suatu merek –yang merupakan pilihan konsumen dalam satu kategori produk– yang membedakannya dengan merek lain, mengapa atribut-atribut itu penting dan mengapa alasan itu penting bagi konsumen.

2.1.2.1 Faktor-faktor yang membentuk citra merek
Menurut Keller (1993:3) faktor-faktor yang membentuk citra merek adalah:
Kekuatan asosiasi merek (strength of brand association) 
Tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan konsumen dan bagaimana informasi tersebut bertahan sebagai bagian dari brand image
Keuntungan asosiasi merek (Favourability of brand association) 
Kesuksesan sebuah proses pemasaran sering tergantung pada proses terciptanya asosiasi merek yang menguntungkan, dimana konsumen dapat percaya pada atribut yang diberikan mereka dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Keunikan asosiasi merek (Uniqueness Of brand association) 
Suatu merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi alasan bagi konsumen untuk memilih merek tertentu.Keunikan asosiasi merek dpat berdasarkan atribut produk, fungsi produk atau citra yang dinikmati konsumen.

Menurut Kotler (2001:401) citra harus dibangun melalui seluruh media yang ada serta berkelanjutan dan pesan tersebut dapat disampaikan melalui lambang, media atau visual, suasana, serta acara.

2.1.2.2 Identitas Merek
Identitas suatu merek adalah pesan yang disampaikan oleh suatu merek melalui bentuk tampilan produk, nama, simbol, iklan, dsb. Identitas merek berkaitan erat dengan citra merek (brand image) karena citra merek merujuk pada bagaimana persepsi konsumen akan suatu merek.

Fakta di lapangan adalah seringkali dijumpai bahwa ada perbedaan persepsi antara pesan yang hendak disampaikan oleh pemasar dengan pesan yang diterima oleh konsumen. Disinilah letak tantangan seorang pemasar di dalam merencanakan pesan sebuah merek yang hendak dikomunikasikan kepada target pasar yang hendak dituju (Doyle, 1998).

2.1.2.3 Dimensi Citra Merek
Merangkum dari hasil studi terhadap berbagai literatur dan riset-riset yang relevan, maka dapat disimpulkan bahwa dimensi-dimensi utama yang memengaruhi dan membentuk citra sebuah merek tertuang dalam berikut ini:
Brand Identity
Dimensi pertama adalah brand identity atau identitas merek.Brand identity merupakan identitas fisik yang berkaitan dengan merek atau produk tersebut sehingga konsumen mudah mengenali dan membedakannya dengan merek atau produk lain, seperti logo, warna, kemasan, lokasi, identitas perusahaan yang memayunginya, slogan, dan lain-lain.
Brand Personality
Dimensi kedua adalah brand personality atau personalitas merek.Brand personality adalah karakter khas sebuah merek yang membentuk kepribadian tertentu sebagaimana layaknya manusia, sehingga khalayak konsumen dengan mudah membedakannya dengan merek lain dalam kategori yang sama, misalnya karakter tegas, kaku, berwibawa, ningrat, atau murah senyum, hangat, penyayang, berjiwa sosial, atau dinamis, kreatif, independen, dan sebagainya.
Brand Association
Dimensi ketiga adalah brand association atau asosiasi merek.Brand association adalah hal-hal spesifik yang pantas atau selalu dikaitkan dengan suatu merek, bisa muncul dari penawaran unik suatu produk, aktivitas yang berulang dan konsisten misalnya dalam hal sponsorship atau kegiatan social responsibility, isu-isu yang sangat kuat berkaitan dengan merek tersebut, ataupun person, simbol-simbol dan makna tertentu yang sangat kuat melekat pada suatu merek.

Dimensi keempat adalah brand attitude atau sikap dan perilaku merek.Brand attitude and behavior adalah sikap atau perilaku komunikasi dan interaksi merek dengan konsumen dalam menawarkan benefit-benefit dan nilai yang dimilikinya. Kerap sebuah merek menggunakan cara-cara yang kurang pantas dan melanggar etika dalam berkomunikasi, pelayanan yang buruk sehingga memengaruhi pandangan publik terhadap sikap dan perilaku merek tersebut, atau sebaliknya, sikap dan perilaku simpatik, jujur, konsisten antara janji dan realitas, pelayanan yang baik dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat luas membentuk persepsi yang baik pula terhadap sikap dan perilaku merek tersebut. Jadi brand attitude ; behavior mencakup sikap dan perilaku komunikasi, aktivitas dan atribut yang melekat pada merek saat berhubungan dengan khalayak konsumen, termasuk perilaku karyawan dan pemilik merek.
Brand Benefit ; Competence
Dimensi kelima adalah brand benefit and competence atau manfaat dan keunggulan merek.Brand benefit and competence merupakan nilai-nilai dan keunggulan khas yang ditawarkan oleh suatu merek kepada konsumen yang membuat konsumen dapat merasakan manfaat karena kebutuhan, keinginan, mimpi dan obsesinya terwujudkan oleh apa yang ditawarkan tersebut. Nilai dan benefit di sini dapat bersifat functional, emotional, symbolic maupun social, misalnya merek produk deterjen dengan benefit membersihkan pakaian (functional benefit/ values), menjadikan pemakai pakaian yang dibersihkan jadi percaya diri (emotional benefit/ values), menjadi simbol gaya hidup masyarakat modern yang bersih (symbolic benefit/ values) dan memberi inspirasi bagi lingkungan untuk peduli pada kebersihan diri, lingkungan dan hati nurani (social benefit/ values). Manfaat, keunggulan dan kompetensi khas suatu merek akan memengaruhi brand image produk, individu atau lembaga/ perusahaan tersebut.

2.1.2.4 Hubungan antara citra merek dan keputusan pembelian
Citra merek menentukan persepsi konsumen terhadap suatu produk dalam melakukan keputusan pembelian.Semakin baik citra merek pada suatu produk barang atau jasa, maka semakin kuat keyakinan konsumen terhadap produk tersebut dan mendorong keinginan untuk melakukan keputusan pembelian (Shimp, 2003).

Mempertahankan citra merek sangat sulit dan tidak mudah, karena adanya perubahan- perubahan yang selalu terus maju sesuai dengan kebutuhan yang beragam jumlahnya bagi konsumen, hal ini akan berdampak pada ketertarikan konsumen mengenai produk dari merek tersebut, ketika konsumen akan melakukan keputusan pembelian (Maslichah,2013).

Pengaruh persepsi kualitas, citra merek dan dukungan layanan purna jual sangat mempengaruhi terhadap keputusan konsumen dalam membeli skuter matic merek Honda di Kota Semarang, ini menghasilkan penilaian bahwa citra merek berpengaruh positif dalam keputusan pembelian. (Sri Wahyuni, 2013).

Atas dasar pemikiran tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis:
H1 : Citra Merek berpengaruh positif terhadap Keputusan Pembelian
Kualitas Produk
Kualitas merupakan faktor yang terdapat dalam suatu produk yang menyebabkan produk tersebut bernilai sesuai dengan maksud untuk apa produk itu diproduksi. Kualitas ditentukan oleh sekumpulan kegunaan atau fungsinya, termasuk di dalamnya daya tahan, ketergantungan pada produk atau komponen lain, eksklusive, kenyamanan, wujud luar (warna, bentuk, pembungkus dan sebagainya).

Kualitas produk merupakan pemahaman bahwa produk yang ditawarkan oleh penjual mempunyai nilai jual lebih yang tidak dimiliki oleh produk pesaing.Oleh karena itu perusahaan berusaha memfokuskan pada kualitas produk dan membandingkannya dengan produk yang ditawarkan oleh perusahaan pesaing.Akan tetapi, suatu produk dengan penampilan terbaik atau bahkan dengan tampilan lebih baik bukanlah merupakan produk dengan kualitas tertinggi jika tampilannya bukanlah yang dibutuhkan dan diinginkan oleh pasar.

Menurut Kotler and Armstrong (2004, p.283) arti dari kualitas produk adalah “the ability of a product to perform its functions, it includes the product’s overall durability, reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued attributes” yang artinya kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut produk lainnya.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pengertian kualitas produk adalah suatu standard kualitas atau mutu dari sebuah produk yang mungkin saja dapat membedakan produk satu dengan produk yang lainnya.Kualitas produk yang memiliki nilai tinggi karena mutu yang baik karena peningkatan fungsi maupun kegunaan yang dimiliki oleh suatu produk.

Dimensi Kualitas Produk
Menurut Mullins, Orville, Larreche, dan Boyd (2005, p.422) apabila perusahaan ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan harus mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan produk pesaing. Dimensi kualitas produk tersebut terdiri dari :Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari sebuah produk
Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk yang bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya tahan produk.

Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk.

Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.

Reliabilty (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.

Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk bisa dilihat dari tampak, rasa, bau, dan bentuk dari produk.

Perceived quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan. Jadi, persepsi konsumen terhadap produk didapat dari harga, merek, periklanan, reputasi, danNegara asal.

Menurut Tjiptono (1997, p.25), dimensi kualitas produk meliputi :
Kinerja (performance)
Yaitu karakteristik operasi pokok dari produk inti (core product) yang dibeli, misalnya kecepatan, konsumsi bahan bakar, jumlah penumpang yang dapat diangkut, kemudahan dan kenyamanan dalam mengemudi dan sebagainya.

Keistimewaan tambahan (features)
Yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap, misalnya kelengkapan interior dan eksterior seperti dash board, AC, sound system, door lock system, power steering, dan sebagainya.

Keandalan (reliability)
Yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai, misalnya mobil tidak sering ngadat/macet/rewel/rusak.

Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications)
Yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya.Misalnya standar keamanan dan emisi terpenuhi, seperti ukuran as roda untuk truk tentunya harus lebih besar daripada mobil sedan.

Daya tahan (durability)
Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan.Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis penggunaan mobil.

Estetika (asthethic)
Yaitu daya tarik produk terhadap panca indera.Misalnya bentuk fisik mobil yang menarik, model atau desain yang artistik, warna, dan sebagainya.

Hubungan Antara Kualitas Produk Dan Keputusan Pembelian
Pada saat konsumen telah mengetahui keberadaan perusahaan, akan memudahkan perusahaan untuk mengeksplore produk apa saja yang dihasilkan dengan kualitas produk yang baik sehingga dapat meningkatkan keputusan pembelian pada suatu produk (Sulistyawati,2010).

Berdasarkan penelitian Purwati, dkk (2012), bahwa variabel kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian sepeda motor matic honda beat. Adanya pengaruh X (kualitas produk) berpengaruh signifikan terhadap Y (keputusan pembelian). Kodu (2013), juga mengatakan bahwa variabel kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian toyota avanza pada PT. Hasjrat Abadi Manado. Adanya pengaruh X (kualitas produk) berpengaruh signifikan terhadap Y (keputusan pembelian).

Kualitas produk yang ada di dalam produk tersebut harus sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen, dimana jika kualitas produk tersebut sesuai dengan yang diharapkan konsumen maka banyak konsumen yang menginginkan produk tersebut. Sehingga terjadinya pembelian pada suatu produk.(Candra, et al, 2014).

Atas dasar pemikiran tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis:
H2 : Kualitas Produk berpengaruh positif terhadap Keputusan Pembelian
2.2 Hasil Penelitian Relevan
Beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan proses pengambilan keputusan pembelian adalah sebagai berikut:
Tahun Nama Peneliti Judul Penelitian/Jurnal Kesimpulan
2016 Tamara Citra Analisis Pengaruh Kualitas Produk dan Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian Cetakan Continous Form melalui Kepercayana Merek (Studi pada Percetakan Jadi Jaya Group, Semarang) Citra merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.

Dan hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.

2016 Tabhita Ratna Prasastiningtyas Pengaruh Citra Merek, Kualitas, dan Harga Terhadap Keputusan Pembelian Kartu Seluler. Variabel Citra merek berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian kartu seluler Telkomsel.

Variabel Kualitas produk berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian kartu seluler Telkomsel.

Variabel Harga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian kartu seluler Telkomsel.

Variabel Citra merek berpengaruh dominan terhadap proses keputusan pembelian kartu seluler Telkomsel.

2015 Kartika Lestari Handayani Pengaruh Citra Merek dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian (Studi Banding Konsumen Indomie dan Mie Sedaap) Pengaruh yang signifikan antara Citra Merek dan Keputusan Pembelian.

Pengaruh yang signifikan antara kualitas produk terhadap keputusan pembelian.

Penngaruh yang signifikan secara bersama-sama citra merek dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian.

2.3 Kerangka Teoritik
Kerangka teoritik dikembangkan agar dapat menggambarkan pengaruh citra merek dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian konsumen.

Keputusan pembelian adalah suatu hal yang dilakukan oleh konsumen berupa tindakan pembelian karena adanya ketertarikan terhadap suatu barang.

Citra merek adalah kesan keseluruhan terhadap posisi merek ditinjau dari persaingannya dengan merek lain yang diketahui konsumen –apakah merek tersebut dipandang konsumen sebagai merek yang kuat.

Kualitas produk adalahsuatu standard kualitas atau mutu dari sebuah produk yang mungkin saja dapat membedakan produk satu dengan produk yang lainnya.

Citra Merek (X1)

Keputusan Pembelian (Y)

Kualitas Produk (X2)

2.4 Perumusan Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan sementara dan masih harus diuji kebenarannya melalui penelitian.

Atas dasar pertimbangan di dalam rumusan masalah, maka hipotesis yang penulis kemukakan adalah :H1 Citra merek (X1) berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian
(Y).

H2Kulitas produk (X2) berpengaruh positif terhadap keputusan
pembelian (Y)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Objek dan Ruang Lingkup Penelitian
Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah keputusan pembelian produk laptop Acer di kalangan mahasiswa/I Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta. Adapun ruang lingkup kajiannya meliputi penelitian bermaksud untuk menganalisis yang diduga mempengaruhi keputusan pembelian produk laptop Acer di kalangan mahasiswa/I Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta.

Waktu Penelitian
Waktu yang dibutuhkan dalam penelitian ini di mulai dari awal November hingga kurang lebih pertengahan Desember.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif.

Desain penelitian adalah explanatory dengan jenis penelitian deskriptif dan kausal, yaitu peneliti akan melakukan pengujian terhadap hipotesis dan menguji pengaruh variable terikat terhadap variable bebas.

Variabel terikat pada penelitian ini adalah keputusan pembelian pada produk laptop Acer di kalangan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Variabel yang diduga berpengaruh terhadap variable terikat adalah citra merek dan kualitas produk.

Menurut Sugiyono (Sugiyono:6) penelitian kuantitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis pendekatan induktif. Penelitian kuantitatif menitikberatkan pada pengukuran dan analisis hubungan sebab akibat setiap variable.

Populasi dan Sampel
Populasi
Dalam penelitian kuantitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi social situation atau sitiasi sosial yaitu kesinambungan antara tempat (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis.

Menurut Sugiyono (2007:115) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasis yang digunakan sebagai sumber data. Definisi Sampel merupakan suatu bagian dari populasi yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan populasinya (Soehartono, 2004:57).

Metode Pengumpulan Data dan Kisi-Kisi Instrumen
Metode pengumpulan data menggunakan metode survei melalui penyebaran kuesioner terstruktur yang diberikan kepada responden dan dirancang untuk mendapatkan informasi yang lebih spesifik.

Data penelitian dikumpulkan baik lewat instrument pengumpulan data, observasi, wawancara maupun lewat data dokumentasi. Sumber data secara garis besar terbagi menjadi 2 bagian, yaitu data primer dan data sekunder.

Kisi-Kisi Instrumen Penelitian
No. Variabel Indikator Item
1. Citra Merek Dikenal banyak orang 1
Citra Merek 2, 3
Mudah dicari 4
2. Kualitas Produk Kebutuhan konsumen 5,6
Kesesuaian produk 7,8,9
Pelayanan yang memuaskan 10
Produk yang memuaskan 11,12, 13, 14, 15
Produk yang menarik 16
Sesuai harapan 17,18,19
3. Keputusan Pembelian Minat beli 20,21,22
Skala Pengukuran
Penelitian ini menggunakan skala likert sebagai alat penelitian untuk mengukur pernyataan yang tercantum pada kuisioner. Untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan Citra merek dan kualitas produk terhadap Keputusan Pembelian digunakan instrument berupa kuesioner dengan pengukuran menggunakan skala likert yang mempunyai lima tingkatan yang merupakan skala jenis ordinal. Dengan menggunakan dua instrument, yaitu Citra Merek dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa pernyataa atau parameter yang akan diukur.

STS: Sangat Tidak Setuju= Skor 1
TS: Tidak Setuju= Skor 2
KS: Kurang Setuju= Skor 3
S: Setuju= Skor 4
SS: Sangat Setuju= Skor 5
Metode Analisis
Metode analisis data digunakan untuk mengambil kesimpulan keseluruhan data yang telah terkumpul. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan perangkat lunak SPSS untuk mengolah dan menganalisis hasil dari data yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Uji Instrumen
Uji instrumen adalah pengujian yang dilakukan apakah data-data yang diperoleh akurat dan objektif. Agar data yang dikumpulkan benar-benar berguna, maka alat ukur yang digunakan harus valid dan reliabel. Dalam uji instrumen terdapat pengujian yang harus dilakukan yaitu uji validitas dan uji reliabilitas.

Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya suatu kuesioner. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu penelitian yang akan dilaksanakan.
Data yang valid adalah data “yang tidak berbeda” antaa data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian. Pengujian validitas menggunakan ketentuan jika signifikan dari r hitung atau r hasil ; r table maka item variable disimpulkan valid.

Uji Reliabilitas
Uji realibilitas digunakan untuk menguji sejauh mana jawaban seorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.

Analisis Deskriptif
Metode ini digunakan untuk menganalisis data yang ada dalam penelitian yang terdiri dari kualitas pelayanan jasa dan kepuasan pelanggan. Adapun metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif persentase dengan langkah-langkah sebagai berikut :a. Membuat tabel distribusi jawaban angket
b. Menentukan skor jawaban dengan ketentuan skor yang telah
ditentukan.

c. Menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh dari tiap-tiap
responden.

d. Memasukan skor tersebut kedalam rumus.

Uji Asumsi Klasik
Sebelum melakukan pengujian hipotesis, terlebi dahulu akan dilakukan pengujian terjadinya penyimpangan terhadap asumsi klasik. Dalam asumsi klasik terdapat beberapa pengujian yang harus dilakukan, yakni Uji Normalitas, Uji Linearitas, Uji Multikolonieritas dan Uji Heteroskedastisitas.

Uji asumsi klasik dilakukan untuk menguji asumsi-asumsi yang ada dalam pemodelan regresi linier berganda atau dengan kata lain mencari hubungan yang tidak benar dalam hubungan antara variable bebas dengan variable terikat.

Uji Normalitas
Uji normalitas ialah “untuk mengetahui apakah variabel dependen, independen atau keduanya berdistribusi normal, mendekati normal atau tidak, sehingga dapat diketahui teknik statistik yang digunakan.

Uji normalitas adalah pengujian yang bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variable pengganggu atau variable residual memiliki distribusi normal. Uji ini diidentifikasikan dengan oengujian analisis grafik.

Uji Linearitas
Menurut Imam Ghozali (2007: 115) Uji linieritas “digunakan untuk melihat apakah spesifikasi model yang digunakan sudah benar atau tidak. Hal tersebut didukung oleh pendapat Purbayu Budi Santosa ; Ashari tentang asumsi linieritas : “asumsi ini menyatakan bahwa untuk persamaan regresi linier, hubungan antara variabel independen dan dependen harus linier”.
Uji Multikonolieritas
Pendapat lain diungkapkan oleh Tony Wijaya (2009: 119) mengemukakan bahwa “Uji multikolinearitas merupakan uji yang ditunjukkan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (variabel independen). Model regresi yang baik selayaknya tidak terjadi multikolinieritas.”
Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskesdasitisas dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidakpastian varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain.

Uji heteroskesdasitisas adalah pengujian yang bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah regresi terdapat kesamaan varians dari residu dari satu pengalaman ke pengalaman yang lain sama, maka disebut homoskedastisitas dan jika varians berbeda disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang mengalami kesamaan dalam pengamatan dan tidak terjadi heterokedastisitas.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Eugene!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out