Site Loader

Bidang pelayanan bedah merupakan bagian yang sering menimbulkan kejadian tidak diharapkan, baik cidera medis maupun komplikasi akibat pembedahan. Pembedahan merupakan tindakan medis yang penting dalam pelayanan kesehatan. Tindakan pembedahan merupakan salah satu tindakan medis yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa, mencegah kecacatan dan komplikasi. Namun demikian, pembedahan yang dilakukan dapat juga dapat menimbulkan komplikasi yang dapat membahayakan nyawa. World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa selama lebih dari satu abad perawatan bedah telah menjadi komponen penting dari perawatan kesehatan di seluruh dunia. Diperkirakan setiap tahun ada 230 juta operasi utama dilakukan di seluruh dunia, satu untuk setiap 25 orang hidup (WHO, 2008).

Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien menjadi lebih aman. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (KKP-RS). Kamar bedah merupakan suatu unit yang memberikan proses pelayanan pembedahan yang banyak mengandung resiko dan angka terjadinya kasus kecelakaan di kamar operasi sangat tinggi, jika dalam pelaksanaannya tidak memperhatikan pasien, kesiapaan pasien, prosedur maka pasien akan cedera (Cahyono, 2008).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Petugas kesehatan tentu tidak bermaksud menyebabkan cedera pasien, tetapi fakta tampak bahwa setiap hari ada pasien yang mengalami KTD (kejadian tidak di harapkan), atau disebut juga Adverce Event (AE), maupun KNC (kejadian nyaris cedera) oleh sebab itu diperlukan program untuk lebih memperbaiki proses pelayanan, karena sebagian KTD merupakan kesalahan dalam proses pelayanan yang sebetulnya dapat dicegah melalui rencana pelayanan yang komprehensif dengan melibatkan pasien berdasarkan Haknya. Program tersebut kemudian dikenal dengan patient safety (keselamatan pasien). KTD, baik yang tidak dapat dicegah (non error) maupun yang dapat dicegah (error), berasal dari berbagai proses asuhan pasien (World Alliance For Patient Safety, 2008).

Kejadian luka traumatis, kanker dan penyakit kardiovaskular terus meningkat. WHO memprediksi bahwa dampak dari intervensi bedah pada sistem kesehatan masyarakat akan juga terus tumbuh. Untuk alasan ini WHO melakukan inisiatif untuk upaya keselamatan bedah. Surgical safety checklist (SSCL) adalah sebuah daftar periksa untuk memberikan pemebedahan yang aman dan berkualitas pada pasien. Surgical safety checklist (SSCL) merupakan alat komunikasi untuk keselamatan pasien yang digunakan oleh tim professional di ruang operasi . Tim professional terdiri dari perawat, dokter bedah, dokter anestesi, dan lainnya. Tim bedah harus konsisten melakukan setiap item yang dilakukan dalam pembedahan mulai dari the brefing phase, the time out phase, the debriefing phase sehingga dapat meminimalkan risiko setiap risiko yang tidak diinginkan (Safety& Compliance, 2012). Tindakan pembedahan memerlukan persamaan persepsi antara ahli bedah, anestesi, dan perawat. SSCL sebagai alat untuk meningkatkan kualitas dan keamanan berisi 19 jenis yang harus dilakukan dalam tiga fase operasi yaitu sebelum induksi anestesi (sign in), sebelum sayatan kulit (time out), dan sebelum pasien meninggalkan ruang operasi (sign out) (WHO, 2009).

Dalam perkembangannya hingga kini, masih ditemui banyak kasus dimana tenaga kesehatan yang bekerja kurang patuh melaksanakan patient safety, bekerja sekedar untuk mencari nafkah guna menghidupi keluarganya sehingga mengabaikan aturan-aturan yang ada. Masih ditemui kasus dimana para petugas kesehatan/ perawat yang bekerja tidak melaksanakan prosedur (protap) yang ada sehingga membahayakan keselamatan pasien. Hal tersebut dapat terlihat pada fakta dilapangan yaitu masih terdapat keluhan pasien yang ditujukan pada perawat tentang pelayanan yang tidak memuaskan baik secara langsung, lewat kotak saran, maupun lewat pesan elektronik (Hasibuan M.S, 2005).

Perawat salah satu komponen utama pemberi layanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peran penting karena terkait langsung dengan pemberi asuhan keperawatan kepada pasien sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Perawat sebagai bagian dari tim pelayanan kesehatan yang ada dilapangan sangat menentukan upaya keselamatan pasien, salah satunya di ruang operasi sehingga dapat menurunkan komplikasi akibat operasi dan kecacatan, dan kematian (Sandrawati, 2013).

Beban kerja perawat akan memberikan dampak terhadap kualitas layanan, terutama dalam meningkatkan kinerja perawat pelaksana. Selain terganggunya kinerja perawat, juga dapat menimbulkan stres pada pekerjaan, kebosanan atau kejenuhan, kelelahan mental, dan menurunnya efektifitas kerja. Adapun dampak psikologis yang dirasakan akibat beban kerja yang tinggi adalah stres, ketegangan dan kebosanan atau kejenuhan dan ada pula perasaan jengkel, wring march atau meningkatnya emosi (Marquish dan Huston, 2010).

Marquish dan Huston (2010), pengertian beban kerja perawat adalah seluruh kegiatan atau aktifitas yang dilakukan oleh seorang perawat selama bertugas disuatu unit pelayanan keperawatan. Beban kerja (work load) biasanya diartikan sebagai patient days yang merujuk pada sejumlah prosedur, pemeriksaan, kunjungan (visite) pada pasien, injeksi dan sebagainya. Pengertian beban kerja secara umum adalah upaya merinci komponen dan target volume pekerjaan dalam satuan waktu dan satuan hasil tertentu (Hasibuan, 2005).

Salah satu permasalahan yang sering muncul di suatu rumah sakit adalah beban kerja perawat yang tidak seimbang. Walaupun seringkali manajer sulit untuk mengetahui kualitas beban kerja tersebut karena lebih mendasarkan pada keluhan-keluhan yang bersifat subyektif. Biasanya situasi tersebut diawali dari tahap perencanaan kebutuhan tenaga perawat yang tidak sesuai dengan kapasitas kerja suatu institusi pelayanan. Hal ini sangat berisiko bagi kualitas pelayanan yang diberikan oleh perawat karena apabila beban kerja tinggi maka ketelitian dan keamanan kerja menjadi menurun (Ilyas, 2004).

Kepatuhan petugas profesional (perawat) adalah sejauh mana perilaku seorang perawat sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan pimpinan perawat ataupun pihak rumah sakit (Niven, 2012). Faktor- faktor yang mempengaruhi kepatuhan diantaranya pendidikan, modifikasi faktor lingkungan dan sosial, perubahan model prosedur, interaksi professional kesehatan, pengetahuan, sikap (attitude), dan usia (Niven, 2012).

Penelitian di 56 negara dari 192 negara anggota WHO tahun 2004 diperkirakan 234,2 juta prosedur pembedahan dilakukan setiap tahun. Pada negara maju, tercatat kemungkinan 3-16% untuk terjadinya komplikasi pada pembedahan. Sedangkan angka kematiannya mencapai 0.4-0.8%. Dimana setengah dari Kejadian Tidak Diharapkan atau KTD (adverse event) ini sebetulnya dapat dicegah. Sementara itu, pada negara berkembang, angka kematian yang berhubungan dengan pembedahan yakni 5-10%. Selain itu, infeksi serta komplikasi paska pembedahan (post-operative) juga menjadi perhatian yang serius di berbagai negara (WHO, 2008). Indonesia hingga tahun 2005 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menerima laporan sedikitnya 200 kasus dugaan kesalahan pelayanan rumah sakit kepada pasien. Sehingga pada tanggal 21 Agustus 2005 dalam Seminar Nasional VIII PERSI, Menkes mecanangkan Gerakan Nasional Keselamatan Pasien yang wajib diterapkan oleh tiap rumah sakit, sehingga diharapkan dapat memperbaiki pelayanan kepada pasien (Pusat Data & Informasi PERSI, 2006).

Hambatan penerapan SSCL di kamar bedah rumah sakit antara lain: kurangnya tenaga perawat, belum paham petugas kesehatan tentang pelaksanaan SSCL, petugas belum terbiasa (sering lupa), dokter terburu-buru, kurang kesadaran pentingnya SSCL, hambatan komunikasi antara dokter dan perawat (Sandrawati, 2013).

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Eugene!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out